Selasa, 31 Mei 2011

Tak Tahan

Walau t’lah berusaha kutahan diri
Tuk tidak mengungkapkan isi hati
Tapi hati telah dibalut cinta
Sungguh aku tak kuasa

Tak ingin ku gerakkan tangan ini
Tuk menulis untaian kata dalam hati
Namun apa daya……?
Jikalau rasa suka telah marasuk dalam jiwa
Tertanam dalam dada

Lama sudah ku menahan
Sampai kini ku tak tahan
Gejolak hatiku  memaksa
Tuk menyatakannya padamu sebuah rasa

Terpaksa kuungkapkan perasaan ini
Agar ringan derita jiwaku yang dirundung kasih
Ku tak mau hati ini lara dan sedih
Akibat perasaanku ini
Perasaan cinta dan kasih
Kini aku alami

Jikalau cintaku terbalas
Oh……hati rasa bahagia
Tapi bila tak terbalas
Apa daya cinta tak dapat dipaksa

Jawablah ungkapan ini !
Olehmu dari lubuk hati

Ilmu

Luasnya samudera dunia
Tak seluas ilmu yang Tuhan punya
Tingginya langit yang biru
Tiada sederajat tingginya dengan ilmu

Tuntutlah olehmu akan ilmu dunia
Tapi janganlah sekali-kali kau lupa
Tuntut pula ilmu agama
Agar engkau dapat hidup bahagia
Di alam dunia dan di akhirat yang baka

Hauslah engkau akan ilmu
Karena ia akan menerangi langkahmu
Apakah sama orang yang berilmu
Dengan yang tidak berilmu?
Adakah sama orang buta
Dengan  yang dapat melihat dengan mata?
Atau samakah antara gelap gulita dan terang benderang?

Maka tuntutlah ilmu selagi sempat
Namun setelah dapat jangan jadi jahat
Tuntutlah ilmu hingga kau pintar
Namun jangan sekali-kali kau jadi ingkar

Janganlah kau merasa hebat
Dengan ilmu yang telah kau dapat
Apalagi sampai berbuat bejat
Karena ilmumu hanyalah setetes air dilautan
Bila dibandingkan dengan ilmunya Tuhan

Do’a Cinta

Ya Allah…!
Jagalah diri hamba
Dari jerat pesona wanita
Yang akan melupakan hamba
Dari mengingat-Mu Tuhan Maha Kuasa

Jagalah diri hamba
Dari kecantikan wanita yang memikat
jagalah diri hamba agar tak tergoda
Dan tak terikat tali syetan yang kuat

Ya Allah….!
Peliharalah rasa cinta ini
Cinta yang suci nan murni
Dengan cinta ini ku mengabdi
Mengabdi pada-Mu ya Rabbi

Peliharalah cinta yang begitu tinggi
Yang tertanam dalam hati
Jangan sampai ternodai
Oleh nafsu birahi

Ya Allah….!
Jangan jadikan cinta ini
Sebagai musibah bagi diri
Jika ku tak kuasa
Tuk mengendalikannya
Jangan sampai cinta ini melupakanku
Dari menyebut asma-Mu

Ya Allah….!
Jikalau cinta ini adalah ketertawanan
Tawanlah hatiku dengan cinta kepada-Mu
Agar tak ada lagi dapat menawan hatiku
Jikalau rindu ini adalah rasa sakit
Penuhilah rasa sakit ini dengan rindu kepada-Mu

Terpana

Siapa tak terpana
Melihatmu yang cantik jelita
Siapa tak terperanga
Memandang keindahanmu yang mempesona

Aduhai …..kecantikan wajahmu
Keluhuran akhlakmu
Kelembutan sikapmu
Keindahan senyummu
Belenggu hatiku luluhkan kalbuku

Memandang wajahmu yang penuh pesona
Membuat jiwaku bergelora
Memandang matamu sayu merayu
Bergemuruh jantungku bak debur ombak samudera biru
Bergetar tubuhku ini
Menahan gejolak isi hati

Rasa suka cita bersemi dalam hati
Tumbuh subur di permukaan bumi hati
Kelopak cinta tersenyum merekah
Cinta sejati tumbuh dan mekarlah

Rindu merasuk dalam jiwa
Kala ku tak jumpa
Dirimu bersemayam dalam dada
Mengisi ruang hati hampa

Bersinarlah kini cahaya harapan
Terbitlah kini selera cinta yang ku dambakan
Alangkah bahagia kurasakan
Bila selalu bersamamu hai kasih pujaan

Cinta tak dapat dibohongi dan didustai
Cinta tumbuh dan berkembang dari lubuk hati
Cinta pemberian Ilahi Rabbi
Cinta mulia tinggi dan suci

Kucurahkan semua isi hatiku
Padamu bunga pujaanku
Senang dalam hati membekas di jiwa ini
Andai kau jadi milikku seorang diri

Cahya Cinta

Galap pekat tertutup mata hati
Tiada cahaya menyinari
Berlaku hina berbuat keji
Saling iri saling dengki
Begitu tiada henti
Dari generasi ke generasi

Berhala disembah sebagai Tuhan
Dijadikannya tempat pengaduan
Sapi dianggap binatang suci
Percaya segala kebutuhan ia yang cukupi

Namun kini…
Cahya cinta-Mu t’lah menyinari
Menembus tiap sanubari
Menerangi gulitanya lubuk hati
Terbitlah kini sinar kebenaran
Tenggelamlah sudah kebathilan

Cahya cinta-Mu
Cahya terang penyinar dalam kegelapan
Cahya cinta-Mu
Cahya terang petunjuk dalam kesesatan

Permusuhan berubah menjadi persaudaraan
Lenyap perceraian datanglah persatuan
Jalan berliku menuju kesesatan
Kini menuju jalan lurus penuh keselamatan
Atas kamurahan-Mu oh Tuhan
Tiada batasan

Rindu

Kau tahu ku sangat rindu padamu ?
T’lah lama kita tak bertemu
Dahaga merasuki jiwaku
Tandus gersang hatiku
Haus menjalar keseluruh tubuhku
Kering tiada tersiram walau setetes air cintamu

Sunyi sepi relung hati
Didalam gulita ku duduk sendiri
Tiadalah menemani
Kutunggu disini
Hai kasih pujaan hati

Ruang hati terasa hampa
Saat berpisah dengan kasih setia
Jauh tempatmu kini berkelana
Tak mungkin dapat ku menjangkaunya
Masih adakah bagi kita tuk berjumpa?

Kenangan indah selalu terbayang
Didalam benakku tak mudah terhapuskan
Tertulis dalam pikiran
Terukir dalam ingatan
Tiada mudah dapat ku lupakan

Terucap namamu pada perkataan orang
Berkelebat wajahmu ku bayang
Bercerita orang akan dirimu
Bertambah rindu hatiku

Angin malam mendekap diriku
Belai jiwaku yang sedang menahan rindu
Lembut terasa walau dingin tubuhku


Cinta Pandangan Pertama

Cinta pada pandangan pertama
Hanya sekilas tatap keindahan rupa
Cantik jelita menipu mata
Tak tahu akhlak yang ia punya

Senang rasa hati kala melihatnya
Senyum manis menyeringai kepadanya
Kedip mata tak dapat ditahannya
Tersimpan sejuta makna didalamnya

Berjalan gagah bagai arjuna
Kala berjalan didepannya
Lesatkan panah cinta tembus kejantung dada
Tak dapat ia menahan sakitnya
Rindu terbayang selalu wajah kasihnya

Namun ingatlah hai anak manusia
Cinta seperti ini tak kan bertahan lama
Terlalu cepat kau bangun cinta
Tanpa ada pendekatan yang lama
Kan cepat pula runtuhnya bangunan cinta
Karena tak ada pondasi kuat yang menopangnya

Bagai pohon yang baru tumbuh
Terhempas angin tercabut dabawa jauh
Karena akarnya tidaklah mampu
Menahan angin datang menyerbu

Tapi lihatlah pohon menjulang tinggi
Diterpa badai ia tetap kuat berdiri
Karena akarnya telah kuat menghujam
Kedalam tanah ia mencengkram
Inilah cinta tak kan pernah hilang
Walau badai fitnah dan segala rintangan
Kerap datang menerjang 

Laut

Terbentang luas sejauh mata memandang
Spoy angin menerpa pantai datangkan harapan
Lautan luas sebagai anugerah Tuhan
Terpendam di dalamnya penuh kenikmatan

Ikan-ikan melompat bergantian
Seraya bertasbih memuja Tuhan
Melengkapi keindahan
Terumbu karang di dasar lautan
Ikut pula mengagungkan
Atas karunia yang dilimpahkan

Para nelayan layarkan bahtera
Penuh ceria dan suka cita
Mengais rizki yang ada
Pemberian Tuhan Maha Esa

Namun keindahan itu kini hilang
Lenyap tak berbekas tinggal bayangan
Manusia-manusia setengah setan
Hancurkan seluruh harapan
Tinggal hanyalah kenangan

Bajak laut-bajak laut yang tak beradab
Hancurkan lingkungan tak tanggung jawab
Karang dara,bandeng dan rajungan
Sedikit demi sedikit musnah dalam pandangan
Kerang hijau,tenggiri dan barramundi
Masihkah ada untuk esok hari ?

Janji

Banyak orang berjanji demi kebenaran
Namun akhirnya ia injak-injak kebenaran
Banyak yang bersumpah demi keadilan
Namun kini dialah permainkan keadilan

Janjinya tak berbekas dalam hati
Seluruh ucapan ia ingkari
Kini ia jadi pengkhianat sejati
Sungguh ia tak malu pada diri
Atas kelakuannya tak terpuji

Lihatlah kala si munafik ucapkan kata
Buat orang lega dan bahagia
Namun kala tahu itu bohong belaka
Buat susah siapa saja

Bila anda berjanji
Jangan ucapkan kata sumpah yang pasti
Tapi katakanlah dengan sepenuh hati
Jika Tuhan mengizinkan dan meridhai
Janji kan s’lalu ku tepati

Jangan sekali-kali janji kau langgar
Karena janji adalah hutang yang mesti dibayar
Katakanlah “insya Allah” kala berjanji
Semoga ridha Tuhan menyertai

Dusta

Janji manis terucap dari bibirmu
Ku harap dan ku nanti pembuktiannya selalu
Namun tak kunjung jua apa ku dambakan
Entah lupa atau sengaja kau lupakan
Janji yang ku idamkan
Tenggelam ditengah kesunyian malam

Manisnya madu janjimu
Pahit kurasa karena keingkaranmu
Janji untuk kebahagiaan
Derita dan nestapa yang kurasakan

Sebagai seorang keturunan Hawa
Tentu kau tahu aku hanyalah seorang wanita
Lemah dan tak berdaya
Kala kau khianati cinta

Apa salahku ?
Apa dosaku ?
Sampai hatimu tega
Campakkan ku kelembah yang hina

Dasar kau pembohong
Dasar kau pendusta
Tak sedikitpun kau merasa iba
Kau lemparkanku kelembah derita

Penyakit

Keindahanmu t’lah tawan hatiku
Kecantikanmu t’lah jerat hatiku
Manisnya akhlak budi pekertimu
Membuatku tak kuat menanggung rindu
Pesonamu s’lalu goda diriku
Pesona iman tak pernah layu

Kan selalu ku jaga dan ku pelihara engkau hai bunga
Dari gangguan kumbang-kumbang kelana
Walau banyak kumbang bersaing
Berjuang tuk mempersunting
Namun sebagai kumbang sejati
Kan ku pertaruhkan harga diri ini
Tuk dapatkanmu kasih suci

Kini hatiku jatuh sakit
Terkena wabah penyakit cinta
Hingga ku tak sanggup bangkit
Dari pembaringan hati yang dilanda

Oh…betapa sakit penyakit ini
Dokter pun tak dapat obati
Tabib tak dapat sembuhkan

Sakit ini sungguh ada dan nyata
Tapi tak terdeteksi,bagian mana
Yang terkena penyakit sebenarnya
Ku Tanya sang pujangga cinta
Ternyata engkaulah itu obatnya
Pengobat rindu pelipur lara hatiku

Terpenjara

Kulantunkan salam keselamatan
Untukmu hai bunga pujaan
Harum aromamu tersebar luas
Terhembus angin
Bangkitkan gelora jiwa kumbang yang kasmaran

Ku tulis risalah ini
Tuk ungkapkan gambaran jiwa
Curahkan isi hati


Keluh dan kaku serasa lidahku
Tak mampu tuk berkata di hadapanmu
Walau sudah ku rangkai kata
Tuk sampaikan rasa
Namun di hadapanmu sungguh aku tak kuasa

Jangankan tuk merayumu
Apalagi mencumbu
Bahkan bertemu muka bertatap mata
Berdiri di hadapanmu sungguh aku tak mampu

Kasih sayang besar
Tertanam pada diri setiap insan

Hati para dewasa pasti akan disentuhnya
Tak luput pula hatiku kini dikecupnya
Tak berdaya dan tak kuasa
Ku keluar dari belenggunya

Kini hatiku terpenjara
Dibalik dinding kasih sayangmu
Menutup semua jalan hati
Tuk palingkan ke selain dirimu

Ulang Tahun

Selamat ulang tahun ku ucapkan
Semoga engkau bahagia dan penuh kesejahteraan
Semoga panjang umur ku do’akan
Bukan umurmu bertambah panjang
Tapi laku baikmu menjadi kenangan sepanjang zaman

Banyak orang merayakan
Hari ulang tahun penuh keceriaan
Hakikatnya hari kematianlah yang mereka rayakan
Karena sisa umur kian berkurang
Dan maut kan datang menjelang

Ceria dan bahagia boleh saja
Dihari ulang tahun tuk ungkapkan segala rasa
Namun coba renungkanlah olehmu
Kini hilang satu tahun sisa umurmu
Kematian semakin mendekatimu

Makan dan minumlah sepuasnya dipesta
Senang-senanglah dihari ulang tahun
Tapi ingatlah gunakan pikiran anda
Masih bisakah esok anda bangun

Banyak hadiah mungkin t’lah kau terima
Dari teman dan sahabat tercinta
Mulai dari yang rendah sampai yang tinggi harganya
Kuucapkan kata maaf pada anda
Karena ku tak dapat memberi apa-apa
Selain dari nasihat ini saja

Kalimah Thayyibah

kalau kau lihat keindahan
bunga cinta bertebaran
butir-butir permata beterbangan
kamilau emas menyilaukan
“Subhanallah” hendak kau ucapkan

Kalau kau sebuah anugerah
Emas intan permata berlimpah
Dilindungi rumah megah
Mobil mewah pakaian indah
Ucapkanlah “Al-hamdulillah”

Kalau kau lihat segolongan umat
Jadikan berhala tempat bertambat
Jangan kau mendekat
Karena jaring muslihat kan menjerat
Ucapkanlah “Laa ilaaha illallah” sebagai pengikat

Kalau kau lihat pasukan bertempur
Para syuhada mulai gugur
Para pahlawan tersungkur
Hempaskan pedang! mereka kan kabur
Teriakkan “Allahu akbar” mereka kan hancur

Kau palingkan muka kesemua arah
Kesanalah ucapkan kalimah tyayyibah


Namimah

Tiang dunia hancur runtuh
Dimana-mana ribut dan rusuh
Tiada hinggap rasa tenang
Tiada dekap rasa senang
Terbang jauh hanyalah bayang

Negara porakporanda
Darah tertumpah sia-sia
Kerajaan hancur binasa
Karena mereka di adu domba

Domba-domba bermusuhan
Terkena jarum hasutan
Tanpa adanya pengetahuan
Dari belakang mereka dihancurkan

Kawanan domba tak punya gembala
Cerai berailah semuanya
Serigala siap memangsa
Hancurkan kawanan domba

Jadilah gembala para domba
Yang siap tuk mengarahkannya
Jangan kau lakukan namimah
Namimah itulah adu domba
Karena itu perbuatan dosa

Puji

Indah jelita cantik rupawan
Lambungkan angan tiap perempuan
Jejaka dan perawan
Lontarkan padamu pujian

Puji namamu
Selaras dengan lakumu
Pemalu itu sifatmu
Cahaya iman perisaimu
Takwa pakaian kebesaranmu

Berdegup jantungku ini
Kala bertemu muka denganmu puji
Berdebar hatiku ini
Kala bertatap mata denganmu puji

Senyum manismu
Bangkitkan semangatku
Pandang matamu
Jauh menembus kalbuku

Tak kan ku biarkan
Orang menyakiti hatimu
Tak kan kurelakan
Berani menyentuhmu
Kan ku pertaruhkan
Segenap jiwa ragaku

Untuk Apa

Untuk apa meraih ilmu
Sebesar gunung seluas lautan
Tak sedikitpun diamalkan
Bagai pohon subur menjulang tinggi
Manfaat tak pernah ia beri

Untuk apa jadi orang kaya
Genggam zamrud mutiara
Panjang umur abadi kiranya
Hidup mewah di dunia
Di akhirat mendapat sengsara belaka

Jangan karena kaya
Lupa diri lupa daratan
Hanya orang takwa
Dapat gapai kemenangan

Jangan karena tinggi jabatan
Lirik si miskin jadi enggan
Hanya orang penuh iman
Adanya menebar kedamaian

Untuk apa jadi orang yang berpangkat
Kepada rakyat selalu khianat
Ingkari amanat orang melarat
Terpuji di dunia terlaknat di akhirat


Badai Fitnah

Serangga banyak macamnya
Lain ladang lain pula belalangnya
Watak orang tidaklah sama
Lain kepala lain pula hatinya

Ada yang shaleh
Tapi tak kan luput salah
Ada yang peramah
Ada juga pemarah

Waspadalah bila anda bertahta
Si pencuri kan tetap mengincarnya
Waspadalah jika anda sedang jaya
Si penjahat kan berusaha menjatuhkannya

Badai fitnah tak kan urung menerjang
Si pendengki kan kan terus hancurkan
Namun janganlah menyerah
Hadapi caci maki, hina dan fitnah
Teruskanlah perjuangan
Tuk tegakkan agama Tuhan

Hadapilah semua dengan lapang dada
Berdo’alah kepada-Nya
Tuhan Maha Kuasa

Ibu

Dia telah perintahkan manusia
Hormati orang tuanya
Ibunya yang telah mengandungnya
Dalam lemah bertambah lemah pula
Dua tahun ia menyapihnya
Begitulah firman-Nya

Ridha Tuhan ada pada ridha-Nya
Murka Tuhan ada pada murka-Nya
Begitu kata hadits nabi-Nya

Do’anya pasti dikabulkan
Dan kutukannya pasti kenyataan
Nyawanya ia pertaruhkan
Tuk kita yang jadi kebanggaan
Begitu ku katakan

Dialah kasih
Yang selalu mengasihi
Dialah teman
Yang selalu menemani

Dialah pembela utama
Dialah guru yang paling utama
Kasih sayangnya tiada tara
Tunduk patuh setia padanya

Purnama

Bulan purnama pantulkan cahaya
Sejukkan tiap jiwa manusia
Tenteramkan hati yang merana
Tenangkan diri yang gundah gulana

Padang pasir luas memanjang
Tertutup awan halangi pandang
Menunggu pujaan hati datang
Ditengah gelapnya petang

Tiada satu yang menemani
Dalam istana yang indah ini
Hanya bulan tempatku berbagi  rasa
Berbagi cerita kisah mimpiku dengan dia

Bulan……
Seperti inikah rasanya cinta?
Ataukah diriku terlena?
Tenggelam dalam lautan asmara
Dimabuk indahnya cinta


Tempat Kenangan

Disini ku awali
Tumbuhkan cinta abadi
Kukuhkan janji
Tak kan saling mengkhianati
Begitu ikrar suci

Namun semua ini
Jadikanku sakit hati
Kala ia tinggalkan pergi
Padaku ia tak peduli

Tempat ku duduk berdua
Layangkan pandangan mata
Tertuju pada sang puja
Kaku lidah tak dapat berkata

Dulu tempat bermadu cinta
Kini tempat jeruji derita
Tali kasih tersambung disana
Disana pula cerai berainya

Banyak sudah cerita cinta
Berujung duka lara
Nostalgia cinta
Bayangnya terus ada
Walau diri diterpa nestapa


Musim Panas

Terik matahari menyengat tubuh
Tiada pohon satupun tumbuh
Tak ada tempat tuk bernaung
Kecuali ia yang Maha Agung

Musim panas
Bagi orang musim kesengsaraan
Namun bagiku musim kenangan
Ditinggal teman setia
Tinggalkan jejak cerita bahagia

Tetesan air mata basahi bumi
Berpisah dengan sahabat sejati




Tangan kau lambaikan
Selamat jalan ku ucapkan
Semoga tercapai semua tujuan
Disini kau ku tunggu
Tempat berpisah dan bertemu

Musim panas sejuta kisah
Curahkan sejuta kasih
Kan ku tunggu selalu
Dirimu yang ku rindu
Wahai teman sejatiku

Musim Hujan

Gemericik air basahi bumi
Tempat berpijak sang dewi
Perlahan tapi pasti
Dia datang bagai mentari

Kenangan masa lalu
Bangkitkan gairah hidupku
Tempat dimana ku bercumbu
Melepas sejuta rasa rindu

Tumpahan air hujan
Gambarkan curah cinta dalam dada
Genangan air hujan
Menjadi muara bagi sang pecinta

Indah kenangan tak kan terlupa
Musim hujan musim cinta
Hadirnya selalu ingatkan
Masa depan penuh harapan

Ukir kenangan dalam dada
Tulis dalam hati sang puja
Bayangnya tak pernah lekang
Oleh panas yang menerjang
Tak pula luntur
Diterpa badai mengguntur

Teman

Lelah kaki ini ku langkahkan
Telusuri rimbanya kehidupan
Padang pasir panas membara
Telah ku rintangi semuanya

Seribu teman ku punya
Bercanda ria dengan mereka 
Kini hilang tak berbekas adanya
Tinggalkan diriku selamanya

Teman suka tak mengindahkanku
Semua hanya manfaatkanku
Teman duka ku tak punya
Sukar dicari kemanapun jua

Dikala ku kaya harta
Mereka datang seraya memuja
Angkat diriku sebagai raja
Tunduk setia kala ku angkat kata

Namun kini aku papa
Mereka datang menghina
Injak diriku bagai budaknya
Tak berbelas kasih melihatnya


Jangan Sekutukan

Hai kawan mengapa dunia kau jadikan tujuan
Hai kawan mengapa benda kau jadikan Tuhan
Tiadakah akal kau gunakan
Sebagai pemberian Tuhan

Hai kawan bukankah bukti yang nyata telah datang
Hai kawan apalagi masih kau ragukan
Semua telah dijelaskan
Dalam firman-Nya Tuhan



Wahai manusia!
Bukankah dia telah mendatangkan utusan-Nya
Sembahlah Allah Tuhan yang Satu
 Dan jauhilah taghut
Sesembahan tak layak disembah
Selain diri-Nya

Janganlah sekali-kali menyekutukan-Nya
Janganlah sekali-kali menyembah selain diri-Nya
Tiada sesembahan yang dapat memberi
Mudharat dan manfaat selain Ilahi Rabbi

Dari itu jangan kau tersesat
Larut dalam kesenangan sesaat
Duniapun kau jadikan tujuan
Lalu Tuhanpun kau lupakan

Matematika

Sebuah kata unik pantulan dalam jiwa
Menggugah rasa
Sebuah nama mata pelajaran
Penuh misteri dalam pemecahan
Menghitung identik dengannya
Matematika tak salah lagi namanya

Angka-angka saling bertautan
Menguji akal dan kecerdasan pikiran
Tak hanya dapat dipecahkan
Dengan bermodalkan pintar
Namun bisa juga dengan nalar

Ada yang bertanya tentang matematika
Dalam kehidupan apakah gunanya
Tuk apa pelajarinya
Kalau akhirnya sia-sia tak ada fungsinya
Jawabnya mudah saja
Tanyakan saja pada ahlinya
Maka kau yang bertanya akan tahu
Hakikat dan manfaat sebuah ilmu

Matematika merupakan ilmu pasti
Jawaban benar tak pernah bohongi
Bagai lautan
Terkadang ada badai terkadang juga tenang
Begitu matematika dalam soal ujian
Terkadang susah terkadang gampang
Matematika…..
Penuh misteri didalamnya